POST TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA KORBAN PERDAGANGAN ORANG DI YAYASAN KUSUMA BONGAS, KABUPATEN INDRAMAYU
Main Article Content
Abstract
Kondisi pandemi covid-19 membuat angka korban perdagangan orang meningkat akibat terkendala ekonomi. Korban perdagangan orang mengalami berbagai permasalahan akibat pengalaman traumatis yang dialaminya sehingga rentan mengalami indikasi post-traumatic stress disorder (PTSD). Individu yang mengalami PTSD mengalami gangguan dalam fungsi sosial selama lebih dari enam bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran post traumatic stress disorder pada korban perdagangan orang dapat diketahui dari lima aspek yaitu aspek re-experiencing, avoidance, negative alternations, hyperarousal, dan sosial. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Responden penelitian ini adalah korban perdagangan orang di Yayasan Kusuma Bongas, Kabupaten Indramayu dengan menggunakan sample sensus yaitu menggunakan seluruh anggota populasi yaitu sebanyak 32 orang. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berpedoman pada alat ukur baku screening PTSD yang diterbitkan oleh DSM-V yaitu PTSD Checklist-5 (PCL-5) dengan penambahan pertanyaan item pada aspek sosial. Instrumen ini telah teruji valid dan reliabel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran kuisioner dengan metode home visit. Hasil penelitian menunjukan bahwa korban perdagangan orang yang mengalami indikasi PTSD di Yayasan Kusuma Bongas sebanyak 10 orang dengan presentase 31,25% serta seluruh aspek PTSD termasuk kedalam kategori rendah. Hasil analisis masalah menunjukan bahwa aspek avoidance dan aspek sosial memiliki skor yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden cenderung mengalami gangguan dalam aspek sosialnya sehingga perlu program penanganan dengan mengacu prespektif pekerjaan sosial.