Gender dan Gangguan Jiwa di Salah Satu Desa di Kabupaten Garut Jawa Barat Indonesia
Main Article Content
Abstract
Kontruksi gender dapat berkontribusi pada pola gangguan jiwa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini menggambarkan bias gender dalam permasalahan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan gabungan metode. Pendekatan kuantitatif dilaksanakan melalui survey dengan angket terhadap 64 orang dari keluarga ODGJ dan studi statistik ODGJ setempat. Pendekatan kualitatif dilaksanakan melalui diskusi terfokus dan wawancara mendalam. Hasilnya menunjukkan sebagaian besar (64%) ODGJ adalah laki- laki. Penderita skizoprenia lebih banyak laki-laki (78.57%), tetapi depresi agak lebih banyak perempuan (56.25%). Umumnya anggota keluarga mempersepsi: (a) ada perbedaan faktor risiko antara laki-laki dan perempuan (dipersepsi 77.27% laki-laki, 90.47% perempuan), (b) ODGJ laki- laki lebih sulit ditangani (77.27% laki-laki, 69.05% perempuan), dan (c) ada perbedaan peran dalam penanganan ODGJ antara laki-laki dan perempuan (90.91% laki-laki, 88.10% perempuan). Tingginya risiko pada laki-laki berkaitan dengan tekanan ekonomi. Faktor risiko utama pada perempuan adalah tekanan konflik pasangan. Perempuan lebih cepat mencari pertolongan daripada laki-laki. Laki-laki lebih sulit ditangani. Penelitian ini berimplikasi pada kebutuhan pengembangan pelayanan ODGJ agar lebih responsive gender dan melibatkan pekerja sosial.