Model Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya: Pendekatan Dimensi Sosial, Ekonomi, dan Budaya.
Main Article Content
Abstract
Meskipun jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, tetapi disparitas kemiskinan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih tetap tinggi. Penelitian-penelitian mutakhir tentang kemiskinan pun telah berkembang dalam memahami persoalan kemiskinan. Penelitian-penelitian tersebut tidak lagi berfokus pada dimensi ekonomi saja, tetapi multidimensi, termasuk dimensi sosial dan budaya. Berkaitan dengan itu, penelitian ini akan membahas tentang persoalan kemiskinan di wilayah pedesaan di Indonesia. Penelitian ini berargumen upaya pengentasan kemiskinan bagi pedesaan di Indonesia patut berbasiskan pendekatan yang multidimensi dan kontekstual, yaitu sosial, ekonomi, dan budaya. Artinya, butuh pendalaman faktor-faktor penghambat dan pendukung kemiskinan yang berbasiskan aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan disparitas kemiskinan kota dan desa yang tinggi adalah Tasikmalaya. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus di Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian merekomendasikan suatu program penanggulangan kemiskinan berupa “Rancangan Program Penanggulangan Kemiskinan Multidimensi: Peningkatan Jiwa Kewirausahaan” yang dilakukan kepada tiga sasaran berbeda, yaitu usia belum produktif dengan pendekatan investasi sosial, usia produktif dengan pendekatan investasi ekonomi, dan usia nonproduktif dengan pendekatan layanan sosial.